1 Senjata Tradisional Piso Gaja Dompak. Senjata tradisional Sumatera Utara yang pertama dan yang paling terkenal adalah pisau Gaja Dompak. Sesuai namanya, senjata ini memang berupa sebilah pisau yang dilengkapi dengan ukiran gajah di bagian gagangnya. Dari sejarahnya, pisau gaja dompak berasal dari warisan Raja Kerajaan Batak pertama, yakni Warnamerah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. Di zaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang MEMASUKIAgustus, semua masyarakat Indonesia bersiap untuk menyambut hari kemerdekaan. Tentunya banyak cerita menarik seputar hari Kemerdekaan Indonesia, salah satunya adalah sang saka merah putih yang sangat dihormati. Seperti diketahui, bendera merupakan lambang kebesaran, kewujudan, dan kedaulatan sebuah wilayah atau negara. Duapedang kĂ©mbar melambangkan piso gĂĄja dompak, pusaka rĂĄja-raja Sisingamangaraja l-XII. Bendera Merah Putih Berkibar Iso GĂĄja Dompak Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari Duapedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. [1] Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang - pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran. SisingamangarajaXII dikabarkan meninggalkan pusaka Piso Gaja Dompak. Pusaka itu berupa keris yang panjangnya sekitar 60-70 cm dengan pegangan yang menyerupai patung gajah. Menurut keluarga dan hasil penelitian, pusaka ini sudah ada sejak Sisingamangaraja I, sekitar pertengahan abad XVI Masehi. Pusaka tersebut merupakan lambang penting SisingamangarajaXII menghadapi pasukan Korps Marsose sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Kopral Souhoka penembak jitu pasukan Marsose mendaratkan tembakan ke kepala Sisingamangaraja XII tepat di bawah telinganya. Menjelang napas terakhir dia tetap berucap, Ahuu Sisingamangaraja. OlehRaja Uti, Sisingamangaraja I diberi pusaka, berupa Piso Gaja Dompak, yang menjadi semacam regalia untuk mendirikan dinasti kerajaan. Konon yang memiliki Piso Gaja Dompak, layak untuk diangkat menjadi raja. Raja Na 44 Dalam konsep religiusitas Parmalim ada dikenal sebutan Raja Na Opat Puluh Opat. Biasa ditulis Raja 44. SenjataPiso Gaja Dompak. Sumber: steemit.com. Senjata piso gaja dompak merupakan senjata dari seorang pahlawan besar di Indonesia, yaitu Sisingamangaraja XII. Senjata yang ia pergunakan saat melawan penjajahan Belanda di tanah Batak. Senjata ini merupakan benda pusaka raja-raja yang diyakini memiliki kekuatan supranatural. PisoGaja Dompak dipercaya merupakan pusaka kerjaan Batak dimasa raja Sisingamangaraja I. Sebagai pusaka kerjaan, senjata tradisional Sumatera Utara ini tidak diperuntukan untuk membunuh, sebagai senjata pusaka Piso Gaja Dompak ini dipercaya memiliki kekuatan supranatural yang akan memberikan kekuatan spiritual kepada pemegangnya. rzNI. PARBOABOA – Sisingamangaraja XII memiliki nama asli Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela. Lahir pada tanggal 18 Februari 1845 di Bakkara, Sumatera Utara. Sisingamangaraja XII merupakan seorang raja di Negeri Toba dan menjadi salah satu tokoh yang membantu melakukan perlawanan terhadap penjajahan Bangsa Belanda sejak tahun 1878. Gelar Sisingamangaraja XII diperoleh berdasarkan silsilah keluarga Marga Sinambela yang memiliki arti “Raja Singa Agung”. Beliau naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal dunia pada tahun 1876 yakni Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Raja Sohahuaon Sinambela. Bentuk-bentuk Perlawanan Sisingamangaraja XII Alasan Sisingamangaraja XII melakukan perlawanan karena ia menentang adanya upaya Kristenisasi yang dilakukan Belanda dan juga upaya untuk menguasai seluruh daerah tanah Batak. Awal mula perlawanan Sisingamangaraja XII dilakukan pada Februari 1878 dimana pasukan Belanda sampai di Pearaja tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Bersama penginjil tersebut dan seorang penerjemah bernama Simoneit, pasukan Belanda menuju Bahal Batu untuk membangun benteng pertahanan. Kehadiran tentara kolonial ini tentu saja memprovokasi Sisingamangaraja XII. Beliau bertekad untuk mempertahankan daerah kekuasaanya di Tapanuli dari invasi Belanda. Beliau juga ingin agar masyarakat tetap berada dalam kehidupan tradisional, bebas dari segala pengaruh dan intervensi dari negara-negara lain, serta menolak penyebaran agama Kristen di Tanah Batak. Pada 16 Februari 1878, Sisingamangaraja XII mengumumkan perang yang ditandai dengan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu tersebut. Sebagai respon atas serangan itu, Kolonial Belanda dibawah pimpinan Kolonel Engels dari Sibolga datang membawa penambahan pasukan sebanyak 250 tentara untuk menyerang Bakkara yang diketahui merupakan markas dari Sisingamangaraja XII. Dalam penyerangan itu, pasukan Kolonial Belanda tersebut berhasil menaklukkan Bakkara. Beruntung Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya berhasil menyelamatkan diri dan keluar mengungsi untuk sementara waktu. Para raja yang tertinggal di Bakkara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah Hindia Belanda. Walaupun dalam pengungsian, Sisingamangaraja XII tidak diam begitu saja. Dia tetap melakukan perlawanan secara Gerilya untuk beberapa kawasan seperti Butarbutar, Huta Ginjang, Lobu Siregar, Naga Saribu, Gurgur. Tetapi perlawanannya tersebut gagal. Pada tahun 1883-1884, Ia dan para pengikutnya kembali berkumpul dan menyusun rencana untuk meluncurkan serangan yang dibantu oleh Kerajaan Aceh. Mereka menyerang Belanda di Uluan dan Balige pada Mei 1883 dan Tangga Batu pada 1884. Melihat perlawanan yang dilakukan Sisingamangaraja XII, membuat Belanda tidak tinggal diam. Di tahun 1907, Belanda kembali memperkuat pasukannya dengan persenjataan lengkap. Dengan pasukan yang diberi nama Korps Marsose, Belanda melakukan penyerangan di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi. Dalam Penyerangan ini, Korps Marsose berhasil membuat Sisingamangaraja XII kewalahan dan terkepung. Sisingamangaraja XII akhirnya gugur dalam pertempuran ini sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Kopral Souhoka, sebagai penembak jitu pasukan tersebut berhasil mendaratkan tembakan ke kepala Sisingamangaraja XII tepat dibawah telinganya. Darah yang menempel di tubuhnya ternyata menjadi titik lemah Sisingamangaraja XII. Dia pun berhasil dilumpuhkan dengan peluru tajam yang sebelumnya dilumuri darah babi. Menjelang napas terakhir, dia tetap berucap “Ahu Sisingamangaraja”. Dalam pertempuran tersebut kedua putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya yang bernama Putri Lopian ikut gugur. Sementara keluarganya yang lain ditawan di Tarutung. Sebelum Sisingamangaraja XII dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung, mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Toba. Penghargaan Dari Pemerintah Republik Indonesia Untuk Sisingamangaraja XII Sejak 14 Juni 1953, makamnya dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige, yang dibangun oleh Pemerintah, masyarakat dan keluarga. Sisingamangaraja XII pun digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 pertanggal 9 Nopember 1961. Kesaktian Sisingamangaraja XII Sisingamangaraja XII merupakan tokoh terakhir yang menjadi pemimpin parmalim kepercayaan zaman dahulu. Dia dianggap Raja Dewa dan titisan Batara Guru, karena Sisingamangaraja diyakini memiliki kesaktian yang mampu mengusir roh jahat, mengeluarkan hujan, dan mengendalikan proses penanaman padi. Pada saat perang berlangsung di Tangga Batu, Sisingamangaraja XII juga beberapa kali menunjukkan kesaktiannya, yaitu Sewaktu rombongan Sisingamangaraja XII melalui Tangga Batu ingin minum, namun mata air ataupun bendar tidak tampak sama sekali, sementara teriknya matahari tidak tertahan lagi. Di dekat kaki Dolok Tolong, Sisingamangaraja mengambil tongkatnya dan dengan tongkatnya tersebut mata air dikorek dari tanah, sehingga rombongan dapat minum. Sampai saat ini, mata air tersebut masih digunakan sebagai air minum di kampung Pallanggean. Pada saat rombongan telah sampai di Tangga Batu dan akan merundingkan sesuatu dengan rakyat, terjadi kekurangan bahan pangan. Daging yang akan dijadikan makanan rakyat yang berkumpul tidak ada. Sementara tempat pengembalaan ternak kerbau dan lembu jauh dari lokasi mereka saat ini. Tiba-tiba kerbau milik seorang bernama Pagonda Tampubolon dapat dipanggil datang ke kampung dan disembelih. Bila Sisingamangaraja XII melintasi suatu daerah, segala orang tahanan harus dibebaskan. Karena Sisingamangaraja XII pernah berujar kepada Humbil yang pernah menahan warga, “Bila saya datang Raja SisingamangrajaXII, sepantasnya rakyatku harus dilepaskan”. Akan tetapi Humbil mengabaikannya, sehingga sewaktu rombongan Sisingamangaraja XII hendak meninggalkan kampung tersebut, maka dengan sekonyong-konyongnya terjadilah angin topan yang sangat hebatnya dikampung itu dan disusul pula dengan ular-ular yang bermacam-macam datang mengerumuni kampung tersebut. Selain memiliki kesaktian yang berhubungan dengan alam, Ia juga diyakini memiliki kesaktian kebal terhadap peluru. Walau pada akhirnya dia gugur karna sebuah tembakan yang mengenai kepalanya. Peninggalan Dari Perjuangan Sisingamangaraja Pasukan Belanda menemukan sebilah pedang yang diduga digunakan oleh Sisingamangaraja XII pada saat berperang, yaitu Piso Gaja Dompak. Saat ini, pedang tersebut telah menjadi koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen, Belanda. Piso Gaja Dompak yaitu senjata tradisional yang datang dari Sumatera Utara. Nama piso gaja dompak di ambil dari kata piso yang bermakna pisau yang berperan untuk memotong atau menusuk, serta memiliki bentuk runcing serta tajam. Bernama gaja dompak lantaran bermakna ukiran berpenampang gajah pada tangkai senjata itu. Piso Gaja Dompak, senjata khas suku batak adalah pusaka kerajaan batak. Kehadiran senjata ini tidak bisa dipisahkan dari perannya dalam perubahan kerajaan Batak. Senjata ini cuma dipakai di kelompok raja-raja saja. Mengingat senjata ini dapat adalah suatu pusaka kerajaan, senjata ini tak di ciptakan untuk membunuh atau melukai orang lain. Juga sebagai benda pusaka, senjata ini dipercaya sebagaian masyarakat Batak mempunyai kemampuan supranatural, yang bakal memberi kemampuan spiritual pada pemiliknya. Senjata ini dapat adalah benda yang dikultuskan serta kepemilikan senjata ini yaitu hanya keturunan raja-raja atau mungkin dengan kata lain senjata ini tak dipunyai oleh orang diluar kerajaan. Belum ada catatan histori yang mengatakan kapan tepatnya Piso Gaja Dompak jadi pusaka untuk kerajaan Batak. Tetapi, dari hasil penelusuran penulis Piso Raja Dompak ini erat hubungannya dengan kepemimpinan Raja Sisingamaraja I. Hal semacam ini berdasar pada keyakinan orang-orang pada mitos datang dari kebiasaan lisan yang terdaftar dalam aksara. Bercerita perihal seseorang bernama Bona Ni Onan, putra bungsu dari Raja Sinambela. Diceritakan pada saat pulang dari perjalanan jauh, Bona Ni Onan merasakan istrinya Boru Borbor tengah hamil tua. Dia juga menyangsikan kandungan istrinya itu. Hingga disuatu malam ia punya mimpi didatangi Roh. Roh itu menyampaikan bahwa anak dalam kandungan istrinya yaitu titisan Roh Batara Guru serta nantinya anak itu bakal jadi raja yang bergelar Sisingamaraja. Bona Ni Onan lalu meyakinkan kebenaran mimpi itu pada istrinya. Istrinya juga bercerita bahwa saat ia mandi di tombak sulu-sulu rimba rimba, ia mendengar nada gemuruh serta Terlihat sinar merasuki badannya. Sesudah tahu bahwa dianya hamil. Ia juga yakin bahwa saat itu ia bersua dengan roh Batara Guru. Saat kehamilannya meraih 19 bln. serta kelahiran anaknya juga dibarengi badai topan serta gempa bumi dahsyat. Oleh karena tersebut putranya ia beri nama Manghuntal yang bermakna gemuruh gempa. Beranjak dewasa Manghuntal mulai memberikan sifat-sifat ajaib yang menguatkan ramalan bahwa dianya yaitu calon raja. Di saat remaja, Manghuntal pergi menjumpai Raja Mahasakti yang bernama raja Uti untuk beroleh pernyataan. Ketika ia akan menjumpai Raja Uti, ia menanti sembari mengonsumsi makanan yang suguhkan oleh istri raja. Saat itu dengan cara tak berniat ia merasakan Raja Uti bersembunyi di atap dengan rupa seperti moncong babi. Raja Uti juga menegur manghuntal, ia juga mengemukakan maksud kehadirannya menjumpai raja serta meminta seekor gajah putih. Raja Uti juga bersedia berikan dengan prasyarat Manghuntal mesti membawa pertanda-pertanda dari seputar lokasi Toba, Manghuntal juga menurut. Kemudian Manghuntal kembali menjumpai Raja Uti dengan membawa kriteria dari Raja Uti. Raja Uti lalu memberi seekor gajah putih dan dua pusaka kerajaan yakni Piso Gajah Dompak serta suatu tombak yang ia namai Hujur Siringis. Konon, Piso Gaja Dompak tidak bisa dilepaskan dari pembungkusnya terkecuali oleh orang yang mempunyai kesaktian serta Manghuntal dapat membukanya. Pasca itu Manghuntal betul-betul jadi raja dengan Sisingamaraja I. hingga sekarang ini orang-orang Batak masih tetap meyakini mitos ini. Terkecuali juga sebagai pusaka yang demikian dihormati serta dikultuskan, Piso Gaja Dompak ini berisi symbol-simbol yang berarti filosofis. Bentuk runcing dari senjata ini, dalam bahasa Batak dimaksud dengan Rantos yang berarti ketajaman memikirkan dan kecerdasan intelektual. Tajam lihat persoalan serta kesempatan, juga dalam menarik rangkuman serta melakukan tindakan. Tersirat bahwa pemimpin Batak mesti mempunyai ketajaman memikirkan serta kecerdasan dalam lihat suatu masalah. Senantiasa lakukan musyawarah dalam memutuskan serta mengambil satu aksi juga sebagai bentuk dari 'kecerdasan serta ketajaman memikirkan serta meihat persoalan'. Ukiran berpenampang gajah disangka di ambil dari mitos memberi piso gaja dompak serta seekor gajah putih pada Manghuntal atau Sisingamaraja I. Piso Gaja Dompak yaitu lambang kebesaran pemimpin batak, pemimpin batak mempunyai kecerdasan intelektual untuk berbuat adil pada rakyat serta bertanggungjawab pada Tuhan. Menurut hasil wawancara dengan cucu Sisingamaraja XII yakni Raja Napatar, satu diantara sumber mengatakan bahwa Piso Gaja Dompak ada di Museum Nasional. Senjata atau pusaka Piso Gaja Dompak ada di satu diantara museum Batak TB Silalahi Balige berbarengan dengan stempel kerajaan Sisingamaraja. ï»żPiso Gaja dompak form of long keris is a symbol of the reign of King SiSingamangaraja important. Traditional weapon used by the general public is a kind hujur Podang spears and swords similar length. Piso Gaja dompak is the traditional weapon from North Sumatra. The name piso gaja dompak is taken from the piso word meaning knife serves to cut or stab, and pointy and sharp shape. Named Gaja dompak as it means elephant-shaped carving on the arms stalk. Piso Gaja dompak, typical weapons tribal Batak is a royal heritage batak. The existence of these weapons can not be separated from its role in the development of Batak kingdom. This weapon is only used among the kings alone. Given this weapon is also a royal heritage, this weapon is not created to kill or injure another person. As heirloom, this weapon is considered to have supernatural powers, which will give spiritual strength to its owner. This weapon is also a cult object and possession of these weapons is limited to descendants of the kings, or in other words, these weapons are not owned by people outside the kingdom. Implied that the Batak leaders must have the sharpness of thought and intelligence in seeing a problem. Always perform deliberation in making decisions and taking action as a form of 'intelligence and sharpness of thinking and seeing the issue. Piso Gaja dompak is the symbol of the greatness of a leader Batak. The leaders have the intelligence to do justice to the people and responsible to God. source various sources